<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blognya Ummu Rofiif-Roofi</title>
	<atom:link href="http://ummurofiif.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ummurofiif.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Sep 2009 08:11:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ummurofiif.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blognya Ummu Rofiif-Roofi</title>
		<link>http://ummurofiif.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ummurofiif.wordpress.com/osd.xml" title="Blognya Ummu Rofiif-Roofi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ummurofiif.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>GANTI BLOG</title>
		<link>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/17/ganti-blog/</link>
		<comments>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/17/ganti-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 08:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ihsantopjitu</dc:creator>
				<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummurofiif.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrohmaanirrohiim Blog ummurofiif.wordpress.com mulai sekarang di ganti ummurofiif.6t3.net Ahlan wa sahlan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=12&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>Bismillahirrohmaanirrohiim</em></p>
<p style="text-align:center;">Blog <strong>ummurofiif.wordpress.com</strong> mulai sekarang di ganti <a href="http://ummurofiif.6te.net"><strong>ummurofiif.6t3.net</strong></a></p>
<p style="text-align:center;">Ahlan wa sahlan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummurofiif.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummurofiif.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummurofiif.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummurofiif.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummurofiif.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummurofiif.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummurofiif.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummurofiif.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummurofiif.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummurofiif.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummurofiif.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummurofiif.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummurofiif.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummurofiif.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=12&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/17/ganti-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94bbec0deaa4070c2e8c6968de1d936d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ihsantopjitu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEPUTAR I’TIKAF</title>
		<link>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/13/seputar-i%e2%80%99tikaf/</link>
		<comments>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/13/seputar-i%e2%80%99tikaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 07:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ihsantopjitu</dc:creator>
				<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[10 malam terakhir di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummurofiif.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Mengenali dan Mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ust. Abu Ahmad Kadiri Ust. Abu ‘Amr Ahmad Merupakan sebuah sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin ketika bulan Ramadhan adalah I’tikaf. Setiap kaum muslimin tentu berharap agar Ramadhan yang dia laksanakan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama ketika 10 terakhir Ramadhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=10&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mengenali dan Mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong></p>
<p>Ust. Abu Ahmad Kadiri</p>
<p>Ust. Abu ‘Amr Ahmad</p>
<p>Merupakan sebuah sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin ketika bulan Ramadhan adalah I’tikaf. Setiap kaum muslimin tentu berharap agar Ramadhan yang dia laksanakan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama ketika 10 terakhir Ramadhan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadr malam yang di dalamnya dilipatgandakan amalan seorang hamba lebih baik daripada 1000 bulan.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya telah memberikan contoh kepada umatnya untuk meningkatkan amaliah ibadah ketika memasuki 10 Terakhir Ramadhan tersebut, dan berusaha untuk mencari malam Lailatul Qadr dengan mengerahkan upaya maksimal, sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :</p>
<p>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>“Dahulu Rasulullah ketika memasuki 10 Terakhir dari bulan Ramadhan, belia mengencangkan tali sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”(HR Al Bukhari no.1884)</p>
<p>Di antara yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 Terakhir Ramadhan adalah I’tikaf di masjid.</p>
<p>Maka berikut ini beberapa hukum ringkas yang terkait dengan permasalahan I’tikaf:<br />
<span id="more-10"></span></p>
<p>Pengertian I’tikaf</p>
<p>I’tikaf secara bahasa adalah terus-menerus dalam mengerjakan sesuatu atau menahan diri dari sesuatu.</p>
<p>Adapun pengertian I’tikaf secara syar’i adalah tinggal di masjid oleh orang tertentu, dengan sifat tertentu dalam rangka konsentrasi beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Hukum I’tikaf</p>
<p>I’tikaf merupakan ibadah sunnah yang disyari’atkan sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’.</p>
<p>Dalil dari Al-Qur’an, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :</p>
<p>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة/187]</p>
<p>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka itu (istri-istri kalian), sedang kalian beri’tikaf”. (Al Baqarah: 187)</p>
<p>Dalil dari As Sunnah:</p>
<p>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</p>
<p>“Bahwasanya Rasulullah dahulu beri’tikaf ketika 10 Terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian beri’tikaflah istri-istri beliau setelah itu”.(Muttafaqun’alaih)</p>
<p>Serta para ulama’ bersepakat tentang sunnahnya perkara ini.</p>
<p>Tempat I’tikaf</p>
<p>Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa i’tikaf hanya bisa dilakukan pada 3 masjid saja, yaitu Al-Masjidil Haram di Makkah, Masjid An-Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsha di Palestina.</p>
<p>Jumhur ‘ulama berpendapat bahwa seluruh masjid bisa digunakan untuk beri’tikaf sebagaimana keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :</p>
<p>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة/187]</p>
<p>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka itu (istri-istri kalian), sedang kalian beri’tikaf” (Al Baqarah: 187)</p>
<p>Karena pada ayat di atas sasarannya adalah seluruh kaum muslimin, tidak terbatas pada masjid tertentu. Kaum muslimin kebanyakan tinggal di luar 3 masjid tersebut.</p>
<p>Adapun hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu :</p>
<p>لااعتكاف إلا في ثلاثة مساجد المسجد الحرام والمسجد الاقصى ومسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Tidak ada I’tikaf kecuali pada 3 masjid (Masjid Al-Haram, Masjid Al-Aqsha, dan Masjid An-Nabawy) (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)</p>
<p>maka para ulama’ membawanya kepada afdhaliyyah (nilai yang lebih utama), yakni tidak ada I’tikaf yang utama kecuali pada tiga masjid tersebut.</p>
<p>Keluarnya seseorang ketika beri’tikaf</p>
<p>Jika ada keperluan seperti buang hajat (BAK, BAB), maka para ulama bersepakat tentang bolehnya hal tersebut. Adapun jika selain buang hajat maka disesuaikan dengan kondisi.</p>
<p>Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : “Dan yang termasuk dalam makna hajat adalah kebutuhan seseorang terhadap makanan dan minuman jika tidak didapati seorang pun yang mengantarkan makanan bagi dia, kemudian jika seseorang ingin muntah maka dia harus menjauh dari masjid, dan seluruh perkara yang mau tidak mau harus dia lakukan namun tidak mungkin dia lakukan di masjid, maka boleh bagi dia untuk keluar dari masjid. Yang demikian tidak membatalkan i’tikafnya dengan catatan tidak berlama-lama. Begitu pula keluar untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti seseorang yang beri’tikaf di masjid yang tidak didirikan shalat jum’at maka dia harus keluar untuk menunaikan shalat jum’at dan tidak membatalkan I’tikafnya.</p>
<p>Sedangkan jika keluar tanpa ada keperluan (hajat) maka hal tersebut membatalkan I’tikafnya walaupun sebentar, sebagaimana pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Malik, dan Al-Imam Abu Hanifah.”</p>
<p>Sebagian ‘ulama menganjurkan agar i’tikaf dilakukan di masjid yang ditegakkan shalat Jum’at padanya.</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :</p>
<p>“Adapun keluar dari masjid jika sebagian badannya maka tidak mengapa. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari shahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :</p>
<p>كان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج رأسه من المسجد وهو معتكف، فأغسله وأنا حائض &#8211; وفي رواية &#8211; كانت ترجل رأس النبي صلى الله عليه وسلم وهي حائض</p>
<p>“Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan kepalanya dari masjid ketika beliau sedang beri’tikaf. Maka aku (‘Aisyah) mencucinya dalam keadaan aku haidh.”</p>
<p>Dalam riwayat lain : “Aisyah menyisir kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal dia (‘Aisyah) sedang haidh.”</p>
<p>Kalau keluarnya dengan seluruh badannya, maka ada tiga kondisi :</p>
<p>Pertama : Keluar karena urusan yang tidak bisa tidak, maka secara tabi’at maupun secara syar’i. Seperti buang hajat kencing ataupun buang air besar, wudhu’, mandi janabah, atau selainnya : makan, minum, maka itu semua boleh jika memang tidak mungkin dilakukan di masjid. Namun jika memungkinkan dilakukan di masjid, maka tidak boleh keluar dari masjid. Misalnya, jika di masjid terdapat kamar mandi sehingga memungkinkan baginya untuk buang hajat atau mandi di situ. Atau jika ada orang yang mengantarkan kepadanya makanan dan minumnya. Maka dalam kondisi tersebut tidak boleh keluar dari masjid karena tidak ada hal yang mengharuskannya untuk keluar.</p>
<p>Kedua : Keluar karena urusan ketaatan yang tidak wajib atasnya, seperti menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, dan lainnya maka tidak boleh. Kecuali jika ia mempersyaratkannya sejak awal i’tikafnya. Misalnya jika di keluarnya ada orang sakit yang mesti ia jenguk, atau dikhawatirkan wafat, maka dia mempersyarakat sejak awal i’tikaf bahwa ia hendak keluar untuk keperluan tersebut, maka tidak mengapa baginya keluar.</p>
<p>Ketiga : Keluar untuk sesuatu yang menafikan i’tikafnya, seperti keluar untuk jual beli, berjima’ dengan istrinya, dan semisalnya, maka ini tidak boleh, baik ia mempersyarakat sejak awal maupun tidak. Karena perbuatan tersebut membatalkan i’tikaf dan menafikan tujuannya. “</p>
<p>(Majalis Syahri Ramadhan).</p>
<p>Kapan dimulai dan diakhiri waktu I’tikaf</p>
<p>I’tikaf dimulai ketika tenggelamnya matahari hari ke-20 pada bulan Ramadhan sebagaimana pendapat Jumhur ulama’. Berdalil bahwa dimulainya hari itu dengan tenggelamnya matahari. I’tikaf diakhiri dengan tenggelamnya matahari pada malam ‘Ied.</p>
<p>Batasan I’tikaf</p>
<p>Tidak ada batasan waktu tertentu untuk I’tikaf, begitu pula syari’at tidak membatasinya, dan ini merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, Ahmad, dan para ulama yang lainya. Bahkan diriwayatkan dari Abu Hanifah sahnya i’tikaf walaupun hanya 1 jam.</p>
<p>Dan sebagaimana kisah Umar radhiyallahu ‘anhu :</p>
<p>كُنْتُ نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ</p>
<p>“Dahulu semasa jahiliyyah aku bernadzar untuk beri’tikaf sehari di Masjid Al Haram. Maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah nadzarmu” (Muttafaqun’alaih)</p>
<p>I’tikaf di luar Ramadhan</p>
<p>I’tikaf di luar Ramadhan diperbolehkan, sebagaimana kisah Umar t ketika bernadzar semasa jahiliyyahnya untuk beri’tikaf selama 1 hari di Masjid Al Haram akan tetapi yang disyari’atkan adalah di bulan Ramadhan, dan kaum muslimin tidak diperintahkan untuk beri’tikaf selain bulan Ramadhan.</p>
<p>I’tikaf di daerah lain</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk melakukan syaddur rihal (perjalanan serius untuk tujuan ibadah) kecuali ke 3 masjid, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudry shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p>لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى</p>
<p>“Janganlah kalian menempuh perjalanan yang jauh kecuali pada 3 masjid: Masjidku ini (Masjid An Nabawy), Masjid Al Haram, dan Masjid Al Aqsha”.(Muttafaqun’alaih)</p>
<p>Adapun selain 3 masjid di atas para ulama bersepakat tidak disyari’atkannya. Termasuk dalam hal ini i’tikaf. Tidak boleh bagi seseorang sengaja melakukan perjalanan ke masjid lain di luar daerahnya untuk melakukan i’tikaf di masjid tersebut, yang demikian termasuk syaddur rihal yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits di atas.</p>
<p>Kecuali bagi seorang musafir yang ketika sampai di suatu tempat kemudian dia berniat untuk beri’tikaf di masjid di tempat tersebut tanpa ada niat sebelumnya sejak dari negerinya bahwa ia akan i’tikaf di masjid tersebut, maka yang demikian tidak mengapa.</p>
<p>Apa yang dilakukan oleh seorang yang beri’tikaf (mu’takif)?</p>
<p>1. Mengikhlaskan niat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .</p>
<p>2. Menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti membaca Al Qur’an, dzikir, memperbanyak shalat nawafil (sunnah), dan lain sebagainya.</p>
<p>3. Tidak menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna.</p>
<p>4. Tidak meninggalkan masjid kecuali untuk kebutuhan yang mendesak (dharury).</p>
<p>Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah berkata :</p>
<p>“Tujuan i’tikaf adalah memutuskan diri dari berhubungan dengan manusia agar bisa konsentrasi beribadah kepada Allah di salah satu masjid, dalam rangka mencari keutamaan dan pahala dari-Nya, serta untuk mendapatkan lailatul qadar. Oleh karena itu selayaknya bagi seorang yang beri’itikaf untuk menyibukkan diri dengan dzikir, qira’ah, shalat, dan ibadah, serta menjauhi hal-hal yang tidak perlu seperti berbincang tentang urusan dunia. Dan tidak mengapa berbincang sedikit dengan pembicaraan yang mubah dengan keluarganya atau yang lainnya karena adanya mashlahah. Berdasarkan hadits dari Shafiyyah Ummul Mu`minin radhiyallahu ‘anhu dia berkata : “Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf, maka aku mengunjungi beliau pada salah satu malam. Maka aku berbincang dengan beliau, kemudian aku berdiri untuk pulang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri bersamaku (mengantar). Muttafaqun ‘alaihi</p>
<p>Beberapa Fatwa Penting</p>
<p>Bolehkan mu’takif (seorang yang beri’tikaf) mengajar atau menyampaikan pelajaran?</p>
<p>Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab : Yang afdhal (lebih utama) bagi seorang mu’takif adalah dia menyibukkan diri dengan ibadah khusus, seperti dzikir, shalat, qira’atul qur’an, dan semisalnya. Namun jika memang ada keperluan untuk mengajari seseorang atau belajar, maka tidak mengapa. Karena yang demikian juga termasuk dzikir kepada Allah ‘azza wa jalla.</p>
<p>Bolehkah bagi mu’takif berhubungan dengan telepon untuk menyelesaikan urusan umat?</p>
<p>Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab :</p>
<p>“Ya boleh bagi seorang mu’takif untuk berhubungan dengan telepon guna menyelesaikan sebagian kebutuhan kaum muslimin, apabila telepon tersebut memang berada di masjid tempat dia beri’tikaf, karena dia tidak perlu keluar dari masjid. Namun apabila teleponnya berada di luar masjid, maka ia tidak boleh keluar untuk itu.</p>
<p>Menyelesaikan keperluan-keperluan kaum muslimin, apabila orang tersebut memang sangat terkait dengannya maka dia tidak perlu i’tikaf. Menyelesaikan keperluan-keperluan kaum muslimin lebih penting daripada i’tikaf, karena manfaatnya lebih banyak. Manfaat lebih banyak lebih utama daripada manfaat yang terbatas, kecuali jika manfaat terbatas tersebut merupakan kewajiban dalam Islam.”</p>
<p>Perhatian :</p>
<p>1. Hendaknya para mu’takif senantiasa menjaga kebersihan dan kerapian masjid.</p>
<p>Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata :</p>
<p>“Dengan tetap perhatian terhadap semangat untuk senantiasa menjaga kebersihan masjid dan waspada dari sebab-sebab yang bisa mengotori masjid, baik sisa-sisa makanan maupun yang lainnya. Berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p>“Diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku, sampai-sampai hanya sekedar kotoran yang dikeluarkan oleh seseorang dari masjid.” HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah</p>
<p>Dan berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membangun masjid di tiap-tiap kampung/qabilah, kemudian hendaknya dibersihkan dan diberi wewangian.” diriwayatkan oleh “Al-Khamsah” kecuali An-Nasa`i, sanadnnya jayyid.”</p>
<p>2. Adapun hadits</p>
<p>ومن اعتكف يوماً ابتغاء وجه الله ؛ جعل الله بينه وبين النار ثلاثة خنادق ، كل خندق أبعد ما بين الخافقين</p>
<p>“Barangsiapa yang beri’tikaf satu hari karena mengharap wajah Allah, maka Allah jadikan antara dia dengan neraka tiga parit. Masing-masing parit (lebarnya) lebih jauh daripada jarak dua ufuk.” (HR. Ath-Thabarani)</p>
<p>Adalah hadits yang dha’if (lemah). Pada sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Bisyr bin Salam Al-Bajali, dia adalah seorang perawi yang munkarul hadits, sebagaimana dikatan oleh Ibnu Abi Hatim, dan disepakati oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Lisanul Mizan. (lihat Adh-Dha’ifah no. 5345).</p>
<p>Semoga amalan kita dicatat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai amal shalih.</p>
<p>Amin Ya Mujibas Sa’ilin</p>
<p>http://asalafy. org</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummurofiif.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummurofiif.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummurofiif.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummurofiif.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummurofiif.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummurofiif.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummurofiif.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummurofiif.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummurofiif.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummurofiif.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummurofiif.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummurofiif.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummurofiif.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummurofiif.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=10&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/13/seputar-i%e2%80%99tikaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94bbec0deaa4070c2e8c6968de1d936d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ihsantopjitu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malam Lailatul Qadar</title>
		<link>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/11/malam-lailatul-qadar/</link>
		<comments>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/11/malam-lailatul-qadar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 23:40:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ihsantopjitu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[10 malam terakhir di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummurofiif.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Bin Hasan Bin Ali Bin Abdul Hamid Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=7&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Bin Hasan Bin Ali Bin Abdul Hamid</em></p>
<p>Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.</p>
<p>Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.<span id="more-7"></span><br />
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar</p>
<p>Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),</p>
<p>[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]</p>
<p>Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,</p>
<p>[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]</p>
<p>2. Waktunya</p>
<p>Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).</p>
<p>Imam Syafi’i berkata, &#8220;Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, &#8220;Apakah kami mencarinya di malam hari?&#8221;, beliau menjawab, &#8220;Carilah di malam tersebut.&#8221;. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).</p>
<p>Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) &#8220;Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.&#8221; (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)</p>
<p>Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &#8220;Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.&#8221; (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).</p>
<p>Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), &#8220;Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.&#8221; (Lihat maraji’ diatas).</p>
<p>Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, &#8220;Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima).&#8221; (HR Bukhari 4/232).</p>
<p>Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.</p>
<p>Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.</p>
<p>Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, &#8220;Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.&#8221;</p>
<p>3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar</p>
<p>Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &#8220;Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&#8221; (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)</p>
<p>Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, &#8220;Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.&#8221; (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).</p>
<p>Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya &#8211; engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.</p>
<p>Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, &#8220;Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.&#8221; (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).</p>
<p>Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), &#8220;Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.&#8221; (HR Muslim 1174).</p>
<p>4. Tanda-tandanya</p>
<p>Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.</p>
<p>Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &#8220;Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.&#8221; (HR Muslim 762).</p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), &#8220;Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.&#8221; (HR Muslim 1170. Perkataannya &#8220;Syiqi Jafnah&#8221;, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, &#8220;Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.&#8221;)</p>
<p>Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &#8220;(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.&#8221; (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).<br />
Dikutip dari Sifat Puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam<br />
Penerbit Pustaka Al-Mubarok (PMR)<br />
penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.<br />
Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.<br />
Judul asli &#8220;Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan&#8221;<br />
Bab &#8220;Malam Lailatul Qadar&#8221;<br />
Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid<br />
Penerbit Al Maktabah Al Islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H.<br />
Edisi Indonesia</p>
<p>Sumber: www.salafy.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummurofiif.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummurofiif.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummurofiif.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummurofiif.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummurofiif.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummurofiif.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummurofiif.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummurofiif.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummurofiif.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummurofiif.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummurofiif.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummurofiif.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummurofiif.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummurofiif.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=7&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/11/malam-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94bbec0deaa4070c2e8c6968de1d936d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ihsantopjitu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah &#8211; Salafiyyin Terhadap Berbagai Aksi Terorisme &#8211; Khawarij</title>
		<link>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/10/sikap-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-salafiyyin-terhadap-berbagai-aksi-terorisme-khawarij/</link>
		<comments>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/10/sikap-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-salafiyyin-terhadap-berbagai-aksi-terorisme-khawarij/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 06:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ihsantopjitu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[aksi teror]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummurofiif.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah &#8211; Salafiyyin Terhadap Berbagai Aksi Terorisme &#8211; Khawarij Pasca pengeboman terakhir yang terjadi beberapa waktu lalu, berkembang berbagai opini dan penilaian tak menentu di masyarakat negeri ini tentang terorisme dan para pelakunya, dengan berpatokan pada tanda-tanda yang serba bias. Suasana ini semakin diperparah dengan munculnya “tokoh-tokoh” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=5&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p><strong>Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah &#8211; Salafiyyin</strong></p>
<p><strong>Terhadap Berbagai Aksi Terorisme &#8211; Khawarij</strong></p>
<p>Pasca pengeboman terakhir yang terjadi beberapa waktu lalu, berkembang<br />
berbagai opini dan penilaian tak menentu di masyarakat negeri ini<br />
tentang terorisme dan para pelakunya, dengan berpatokan pada<br />
tanda-tanda yang serba bias. Suasana ini semakin diperparah dengan<br />
munculnya “tokoh-tokoh” memberikan berbagai komentar, yang berbagai<br />
komentar tersebut kemudian dilansir oleh media.</p>
<p>Kondisi ini membuat kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah &#8211; Salafiyyin merasa<br />
prihatin. Hal ini mendorong kami untuk tampil memberikan penjelasan<br />
singkat kepada kaum muslimin :</p>
<p>1.     Terorisme berlabelkan Islam yang muncul pada masa sekarang<br />
sebenarnya berakar dan merupakan kelanjutan dari paham sesat khawarij,<br />
yang telah muncul pada awal-awal Islam. Paham ini merupakan paham yang<br />
muncul karena semangat yang tinggi membela Islam namun ekstrim dalam<br />
memahami dan menerapkan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah, dengan<br />
bekal pemahaman yang pendek tanpa mau merujuk kepada para ‘ulama Ahlus<br />
Sunnah wal Jama’ah. Sehingga mereka salah total dalam mengaplikasikan<br />
dalil-dalil.<br />
<span id="more-5"></span><br />
2.     Terorisme &#8211; Khawarij bukan bagian dari agama Islam. Tindakan<br />
tersebut bertentangan dengan agama Islam, di samping juga sangat<br />
berbahaya bagi agama Islam dan bagi umat manusia. Tidak ada satu dalil<br />
pun dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menganjurkan atau membenarkan<br />
memperjuangkan Islam dengan cara terorisme, atau dengan aksi-aksi<br />
kekerasan para teroris &#8211; khawarij, baik dengan cara pengeboman,<br />
pembunuhan, perampokan, penentangan terhadap pemerintah muslimin, dll.</p>
<p>3.     Jihad merupakan amalan yang agung dan mulia dalam Islam. Jihad<br />
yang diajarkan dalam Islam adalah jihad yang membawa rahmah. Jihad<br />
dalam Islam ada aturan, syarat-syarat, dan rinciannya. Jihad dalam<br />
Islam ditentukan oleh para ‘ulama Ahlus Sunnah. Bukan dilakukan dengan<br />
sembarangan dan brutal, apalagi dengan cara-cara teror. Aksi-aksi yang<br />
dilakukan oleh para teroris &#8211; khawarij tersebut bukanlah jihad sama<br />
sekali.</p>
<p>4.     Dakwah Salafiyyah adalah dakwah hikmah yang mengusung dakwah<br />
para Nabi dan Rasul. Dakwah Salafiyyah jauh dan bersih dari paham<br />
sesat teroris &#8211; khawarij. Banyak pihak yang mengklaim Salafiyyah,<br />
namun mereka salah dalam memahami dan menerapkan salafiyyah itu<br />
sendiri.</p>
<p>5.     Tuduhan sebagian pihak bahwa Wahhabiyyah berada di balik<br />
berbagai aksi terorisme, merupakan tuduhan yang  salah besar.<br />
Wahhabiyyah adalah Dakwah Tauhid yang ditegakkan oleh Syaikhul Islam<br />
Muhamad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah. Dakwah beliau tidak lain<br />
adalah melanjutkan dakwah para nabi dan rasul, dakwah yang<br />
berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas manhaj Ahlus Sunnah wal<br />
Jama’ah. Tentu saja merupakan dakwah yang ditegakkan di atas hikmah<br />
dan kasih sayang, jauh dari kekerasan apalagi terorisme.</p>
<p>* Catatan : Istilah Wahhabiyyah/Wahabisme merupakan istilah yang tidak<br />
benar, sengaja dimunculkan oleh kaum syi’ah, shufi, dan liberalis yang<br />
membenci Dakwah Tauhid yang dikibarkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin<br />
‘Abdil Wahhab rahimahullah, dalam upaya mereka menjauhkan masyarakat<br />
muslim dari dakwah tauhid dan sunnah.</p>
<p>6.     Berhukum dengan hukum Allah merupakan kewajiban setiap muslim,<br />
termasuk pemerintah kaum muslimin. Namun tidak semua orang yang tidak<br />
berhukum dengan hukum Allah serta merta divonis kafir dan dinyatakan<br />
halal darahnya, atau divonis kafir pemerintahnya. Semua itu ada<br />
rinciannya dalam Islam.</p>
<p>7.     Setiap mukmin harus berloyal kepada Islam dan kaum muslimin, di<br />
sisi lain setiap muslim harus berlepas diri dan benci kepada kekafiran<br />
dan orang-orang kafir. Namun dalam menerapkannya ada aturan dan<br />
rincian yang telah ditetapkan oleh syari’at. Tidak semua orang kafir<br />
boleh dibunuh atau diperangi.</p>
<p>8.     Bahwa penampilan Islami, seperti jenggot, baju gamis, celana di<br />
atas mata kaki, istri bercadar, dll merupakan bagian dari Islam yang<br />
telah diajarkan dan dicontohkan oleh junjungan kita Nabi besar<br />
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan ciri-ciri<br />
seorang muslim yang berpegang teguh pada agamanya. Wajib bagi kaum<br />
muslimin untuk mencintai cara penampilan Islami tersebut. Namun kaum<br />
teroris &#8211; khawarij telah menodai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa<br />
sallam tersebut, dengan mereka terkadang juga berpenampilan dengan<br />
penampilan tersebut. Maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk<br />
menganggap penampilan Islami tersebut sebagai ciri-ciri teroris -<br />
khawarij.</p>
<p>9.     Kami mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk kembali<br />
berpegang teguh  kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan cara pemahaman<br />
dan pengaplikasian yang benar, yaitu dengan metode Ahlus Sunnah wal<br />
Jama’ah yang sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa<br />
Sallam dan para shahabatnya. Dalam semua aspek, baik dalam aqidah,<br />
ibadah, akhlak, maupun dalam bermuamalah. Sehingga kaum muslimin bisa<br />
bersikap dan menilai segala hal di atas landasan agamanya. Termasuk<br />
dalam menyikapi berbagai aksi terorisme kaum khawarij, kaum muslimin<br />
bisa bersikap berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak terombang<br />
ambing oleh pemberitaan media maupun komentar tak bertanggungjawab<br />
dari para tokoh yang tidak jelas motivator dan kapasitas ilmunya.</p>
<p>10.      Satu-satunya cara untuk menyelesaikan dan memberantas<br />
terorisme &#8211; khawarij adalah semua pihak, baik pemerintah maupun<br />
rakyat, harus kembali berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah<br />
dengan cara pemahaman dan pengaplikasiann yang benar, yaitu dengan<br />
metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dalam semua aspek, baik dalam aqidah,<br />
ibadah, akhlak, maupun dalam bermuamalah.</p>
<p>Demikian penjelasan singkat yang bisa kami berikan. Adapun rincian<br />
dari penjelasan di atas bisa didapatkan dalam taklim, ceramah, kaset,<br />
dan buku para ustadz salafi/ahlus sunnah maupun situs ahlus sunnah di<br />
internet. Semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan bagi kaum muslimin.</p>
<p>15 Ramadhan 1430 H / Redaksi Merekaadalahteroris.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummurofiif.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummurofiif.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummurofiif.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummurofiif.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummurofiif.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummurofiif.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummurofiif.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummurofiif.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummurofiif.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummurofiif.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummurofiif.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummurofiif.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummurofiif.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummurofiif.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=5&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/10/sikap-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-salafiyyin-terhadap-berbagai-aksi-terorisme-khawarij/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94bbec0deaa4070c2e8c6968de1d936d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ihsantopjitu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat seputar Terjadinya Musibah Gempa</title>
		<link>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/09/nasehat-seputar-terjadinya-musibah-gempa/</link>
		<comments>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/09/nasehat-seputar-terjadinya-musibah-gempa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 05:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ihsantopjitu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummurofiif.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Asy Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rahimahullah Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam tetap terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du: Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan semua perkara yang telah Allah tetapkan dan takdirkan. Sebagaimana pula Allah Maha Bijaksana lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=3&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Asy Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rahimahullah</p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam tetap terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:</p>
<p>Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan semua perkara yang telah Allah tetapkan dan takdirkan. Sebagaimana pula Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dengan semua apa-apa yang telah Allah syariatkan kepada para hamba-Nya dan apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka.</p>
<p>Dan Allah menciptakan segala sesuatu yang Allah kehendaki dari tanda-tanda kekuasaannya. Allah takdirkan terjadinya gempa bumi dan bencana yang lainnya dalam rangka untuk menakuti hamba-hamba-Nya, memperingatkan mereka atas apa-apa yang telah Allah wajibkan kepada mereka dari hak-hak Allah (yang kebanyakan mereka tidak menunaikannya), memperingatkan mereka dari perbuatan syirik kepada Allah (yang banyak mereka lakukan) dan juga sebagai peringatan dari perbuatan menyelisihi perintahnya.</p>
<p>Demikian pula Allah takdirkan terjadinya gempa bumi dan berbagai macam musibah yang lainnya dalam rangka memperingatkan hamba-hamba-Nya karena mereka terus menerus menjalankan hal-hal yang dilarang Allah.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah Ta’ala:</p>
<p>وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا</p>
<p>&#8220;Dan tidaklah kami mengirimkan tanda-tanda itu kecuali dalam rangka untuk menakuti&#8221; (Al-Isra: 59)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ</p>
<p>&#8220;Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami dari segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an adalah benar. Dan apakah Rabb mu tidak cukup bagi kamu, bahwasanya Dia menyaksikan segala sesuatu?&#8221; (Fushilat: 53).</p>
<p>Dan firman Allah Ta’ala:</p>
<p>قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ</p>
<p>&#8220;Katakanlah Dialah (Allah) yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian, atau dari bawah kaki-kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan-golongan dan merasakan kepada sebagian kalian kekuatan sebagian yang lain.&#8221; (Al An’am: 65)</p>
<p>Imam Al Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Jabir bin ‘Abdillah dari Nabi bahwasanya beliau telah berkata, ketika turun firman Allah Ta’ala:</p>
<p>قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ</p>
<p>&#8220;Katakanlah: Dialah (Allah) yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian&#8221;</p>
<p>Rasulullah lantas berdoa: &#8220;Ya Allah, aku berlindung dengan wajah-Mu.&#8221;</p>
<p>Abu Syaikh Al Ashbahany telah meriwatkan dari Mujahid tentang tafsir ayat ini:</p>
<p>قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ</p>
<p>&#8220;Katakanlah: Dialah (Allah) yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian dari atas kalian.&#8221;</p>
<p>Mujahid menafsirkan, &#8220;Dikirimkan kepada kalian suara yang menggelegar, batu-batu dan angin.&#8221;</p>
<p>Dan firman Allah</p>
<p>فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ</p>
<p>&#8220;Atau azab dari bawah kaki-kaki kalian&#8221;:</p>
<p>Mujahid menafsirkan dengan terjadinya gempa bumi dan musibah tenggelam.</p>
<p>Dan merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi, bahwasanya semua yang diakibatkan dari terjadinya gempa-gempa bumi pada hari-hari terakhir ini di berbagai tempat merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang dengan tanda-tanda tersebut Allah menakuti hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Dan semua yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya gempa bumi atau bencana yang lainnya, yang semua itu mengakibatkan kemudaratan bagi hamba-hamba Allah dan menyebabkan berbagai macam kemelaratan, kesakitan, kematian, penderitaan bagi mereka, semua itu terjadi karena disebabkan perbuatan syirik dan maksiat yang mereka lakukan.</p>
<p>Hal ini sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:</p>
<p>وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</p>
<p>&#8220;Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka itu karena disebabkan perbuatan tangan-tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)&#8221; (Asy Syura: 30).</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ</p>
<p>&#8220;Kebaikan apa saja yang kamu peroleh, maka itu semua datangnya dari Allah. Dan kejelekan apa saja yang menimpamu, maka itu semua dari dirimu sendiri&#8221; (An Nisa: 79)</p>
<p>Dan Allah berfirman tentang umat terdahulu:</p>
<p>فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ</p>
<p>&#8220;Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena disebabkan dosanya. Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kepadanya, dan di antara mereka ada yang kami siksa deangan suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan kedalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah tidaklah sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri-diri mereka sendiri&#8221; (Al Ankabut: 40)</p>
<p>Maka merupakan kewajiban atas semua orang yang telah Allah bebankan syariat dari kalangan kaum muslimin, untuk segera bertaubat kepada Allah, dan berpegang teguh dengan agamanya. Dan wajib bagi mereka untuk meninggalkan setiap yang dilarang oleh Allah berupa perbuatan syirik dan perbuatan maksiat. Sehingga dengan itu semua akan mendatangkan keselamatan dan keberuntungan bagi mereka dari berbagai macam keburukan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Dan sehingga dengan sebab itu pula, Allah akan mengangkat semua musibah dan bencana dari mereka, serta memberikan karunia kapada mereka dengan berbagai kebaikan. Hal ini sebagaimana firman Allah:</p>
<p>وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p>&#8220;Kalau sekiranya penduduk suatu negeri itu mereka beriman dan bertakwa, Kami pasti akan bukakan kepada mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka disebabkan perbuatan yang mereka lakukan.&#8221; (Al A’raf: 96)</p>
<p>Dan firman Allah (tentang ahlul kitab-ed):</p>
<p>وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ</p>
<p>&#8220;Kalau sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan hukum Taurat dan Injil, dan menjalankan apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki-kaki mereka.&#8221; (Al Maidah: 66)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ * أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ * أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p>&#8220;Maka apakah penduduk suatu negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan kami kepada mereka dimalam hari diwaktu mereka sedang tidur?</p>
<p>Atau apakah penduduk suatu negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan kami kepada mereka di waktu dhuha yang ketika itu mereka sedang bermain?</p>
<p>Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang datangnya tidak terduga-duga)? Maka tidaklah ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.&#8221; (Al A’raf: 97-99)</p>
<p>Dan Al ‘Allamah Ibnul Qayyim telah berkata:</p>
<p>&#8220;Terkadang pada sebagian waktu Allah mengijinkan bagi bumi untuk &#8216;bernafas&#8217;. Maka terjadilah di atas muka bumi itu gempa yang dahsyat. Maka gempa tersebut menyebabkan terjadinya kekhawatiran dan ketakutan yang besar bagi hamba-hamba Allah, (sehingga mereka karena sebab terjadinya gempa tersebut) kembali ke jalan Allah, meninggalkan diri dari perbuatan maksiat, tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah, dan menyesal (atas semua dosa yang telah dilakukan). Sebagaimana telah berkata sebagian salaf ketika bumi digoncangkan (terjadi gempa):</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Rabb kalian telah menggoncangkan kalian dengan goncangan yang keras.&#8221;</p>
<p>Dan telah berkata ‘Umar bin Khatthab ketika terjadi gempa di Madinah, maka beliau berkhutbah di hadapan manusia dan menasehati mereka. Beliau berkata:</p>
<p>&#8220;Apabila gempa terulang lagi, maka aku tidak akan tinggal lagi bersama kalian di kota ini.&#8221;</p>
<p>-Selesai perkataan Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah-</p>
<p>Dan atsar/riwayat tentang pembahasan ini dari para salaf banyak sekali.</p>
<p>Maka merupakan kewajiban yang harus dilakukan ketika terjadinya gempa bumi dan bencana lainnya dari sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, -juga ketika terjadi gerhana, angin yang kuat- untuk segera bertaubat kepada Allah, tunduk menyerahkan diri kepada Allah, dan meminta keselamatan pada-Nya.</p>
<p>Demikian pula deangan mamperbanyak zikir kepada Allah dan memperbanyak istighfar kepada-Nya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ketika terjadi gerhana:</p>
<p>فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله ودعائه واستغفاره</p>
<p>&#8220;Jika kalian mengalami yang demikian (gerhana atau gempa dan bencana yang lainnya), takutlah dan rendahkanlah diri-diri kalian kepada Allah dengan berzikir kepada-Nya, berdo’a dan beristighfar kepada-Nya&#8221;.</p>
<p>Dan disukai juga ketika terjadinya bencana untuk mengasihi orang-orang fakir dan orang-orang miskin serta bersedekah kepada mereka.</p>
<p>Hal ini berdasarkan sabda Nabi:</p>
<p>الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض، يرحمكم من في السماء</p>
<p>&#8220;Saling mengasihilah di antara kalian, niscaya kalian akan dikasihi. Orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rahman (Allah). Saling mengasihilah di antara kalian kepada orang-orang di muka bumi ini, niscaya kalian akan dikasihi oleh yang ada di atas langit.&#8221;</p>
<p>Dan sabda Nabi:</p>
<p>مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ</p>
<p>&#8220;Siapa yang tidak mengasihi, dia tidak akan dikasihi (oleh Allah).&#8221;</p>
<p>Dan telah diriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, bahwasanya beliau dahulu pernah menulis perintah kepada para pembantu-pembantunya ketika terjadinya gempa bumi agar mereka bersedekah.</p>
<p>Dan termasuk dari sebab-sebab yang bisa mendatangkan keamanan dan keselamatan dari segala keburukan, yaitu bersegeranya pihak pemerintah untuk memperhatikan dan membantu orang-orang yang lemah, berpegang teguh dengan kebenaran, berhukum dengan apa-apa yang Allah syariatkan dan senantiasa menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.</p>
<p>Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:</p>
<p>وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ</p>
<p>&#8220;Orang-orang mu’min yang laki-laki dan perempuan sebagaimana mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan dengan perkara kebaikan dan melarang dari perbuatan yang munkar, mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat dan mereka mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221; (At Taubah: 71)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ * الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Yaitu orang-orang yang Kami kokohkan kedudukan mereka di atas muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar. Dan hanya kepada Allahlah kembalinya segala perkara.&#8221; (Al Haj: 40-41)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya.&#8221; (Ath Thalaq: 2-3).</p>
<p>Dan banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan dengan makna ini.</p>
<p>Dan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah bersabda;</p>
<p>من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang meringankan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menanggung kebutuhannya. (Muttafaqun &#8216;alaihi)</p>
<p>Beliau juga bersabda:</p>
<p>مَنْ نَفَّسَ عَن مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةٌ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يسر عَلَىَ مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَة ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ الله في الدنيا والآخرة ، والله فى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ العَبْد فِي عَوْنِ أَخِيْهِ</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang menghilangkan kesusahan seorang mu’min dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan menghilangkan darinya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memberi kemudahan kepada seorang yang sedang mengalami kesulitan, Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akherat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Dan hadits-hadits yang berkaitan dengan makna ini banyak sekali.</p>
<p>Dan Allah-lah Dzat tempat untuk meminta, agar Allah memperbaiki keadaaan kaum muslimin semuanya, memberikan karunia kepada mereka dengan kefaqihan dalam agama-Nya dan memberikan karunia kepada mereka pula dengan keistiqamahan di atas agama-Nya.</p>
<p>Semoga Allah memberikan karunia-Nya kepada kaum muslimin dengan taubat kepada-Nya dari segala perbuatan dosa-dosa dan agar Allah memperbaiki keadaan pemerintah kaum muslimin semua, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan melalui mereka.</p>
<p>Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada pemerintah kaum muslimin untuk berhukum dengan syariat-syariatnya kepada para hamba-Nya. Dan semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum muslimin dari gelapnya fitnah-fitnah dan penyimpangan-penyimpangan/tipu daya syaithan.</p>
<p>Sesungguhnya Allah maha penolong dari perkara yang demikian lagi maha berkuasa atasnya.</p>
<p>Shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, para keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.</p>
<p>(Diterjemahkan Oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Asilah Al Muhimmah. Sumber: Buletin Dakwah Al Atsary, Semarang Edisi 15/1427 H)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummurofiif.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummurofiif.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummurofiif.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummurofiif.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummurofiif.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummurofiif.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummurofiif.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummurofiif.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummurofiif.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummurofiif.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummurofiif.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummurofiif.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummurofiif.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummurofiif.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=3&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/09/09/nasehat-seputar-terjadinya-musibah-gempa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94bbec0deaa4070c2e8c6968de1d936d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ihsantopjitu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/08/07/hello-world/</link>
		<comments>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/08/07/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 22:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ihsantopjitu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=1&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummurofiif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummurofiif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummurofiif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummurofiif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummurofiif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummurofiif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummurofiif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummurofiif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummurofiif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummurofiif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummurofiif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummurofiif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummurofiif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummurofiif.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummurofiif.wordpress.com&amp;blog=8916308&amp;post=1&amp;subd=ummurofiif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummurofiif.wordpress.com/2009/08/07/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94bbec0deaa4070c2e8c6968de1d936d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ihsantopjitu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
